Sabtu, 09 Maret 2013

I'm A Pro.. And An Artist Too


"Apapun pekerjaanmu, lakukan dan berikan yang terbaik.. niscaya itulah yang akan memberi arti bagi kehidupan" Begitu nasihat seorang bijak.. dan benar juga... mau jadi menteri, presenter, pelatih bola, tukang bubur, tukang siomay, tukang koran, tukang kredit, tukang dokter, tukang insinyur, tukang guru.. apapun itu.. apalah artinya di mata masyarakat, bila mengerjakannya asal-asalan.. asal selesai, asal rampung, asal finished dan asal dibayar!

Tak ada artinya! kecuali hanya untuk menggugurkan kewajiban.. begitulah kira-kira yang saya tangkap dari seorang Bapak pemangkas rambut.. Seorang barber unik yang baru saya temui kali ini.. selain kocak dan suka bercanda.. nih Bapak ternyata mahir juga merangkai kata-kata bijak yang kadang sampek mak jleb di hati.

Meski kiosnya nampak tidak ramai karena lumayan baru dan terletak nyungsep di dalam kampung, namun tak menyurutkan para pelanggan setianya untuk dipotong walau rambutnya masih sak ucrit. Lumayan ngeselin juga nih Bapak pikir saya waktu pertama kali ngantre di luar.. tambah kesel karena didalam sana malah pada ngakak dan bercanda nggak jelas.. untuk dua orang pelanggan saja saya harus rela ngantri sampai selama 7 lagu peterpan! walau lumayan juga sih, kebetulan saya suka band-nya jadi masih bisa sing along di tengah ketidakpastian itu..

30 menit kemudian tiba giliran saya, waktu masuk agak terusik juga nih sama poto-poto skuad Bayern Munchen yang ditempel di dinding.. biasanya pan modelnya para lelaki yang berambut rapi itu.. la kok ini malah poster pemain bola.. ah sudahlah..mungkin dulu ini tempat main PS..

Duduklah saya di kursi kebanggaan dan segera dicover kain hijau.. "Potong apa?" tanya Bapak itu. "Cepak aja pak.. yang model tipis semuanya. kata saya ringan" Biasanya kalau tukang cukur lainnya langsung aja mulai, tapi beda nih sama yang ini.. tuh Bapak malah mundur sedikit, melihat dengan seksama bentuk wajah dan kepala saya... lalu maju lagi bilang "Nggak cocok mas... bla..bla..bla" menjelaskan potongan apa yang lebih pantes untuk saya.. persis seperti jawaban layanan dukun reg (spasi) cukur.

Karena saya orangnya ndak pedulian masalah rambut saya jawab saja "Ya sudah lah.. terserah Bapak saja" Dari situ baru mulailah sang pemangkas bekerja.. di sepanjang adegan senonoh itu sang Bapak banyak melemparkan guyonan juga kata-kata bijak.. dan tak lupa selalu memberi saran bagian rambut saya bagaimana kalau dipotong gini..gitu.. dan lainnya.. Saya seperti biasa hanya manut saja.. asal kaya Steven Gerrard deh Pak kata saya sambil menunjuk gambar kapten Liverpool di dinding kiosnya.. "Beres.." katanya.

Satu-dua-tiga dan seterusnya lagu-lagu Peterpan mengalun mengiringi keceriaan kami berdua.. tak terasa waktu berlalu sudah.. rambut saya yang berapa waktu lalu masih agak tebal berponi kini sudah tampil nyentrik.. walau bagi saya sih potongan sekeren apapun nggak ngaruh.. bisa jadi karena wajah saya ini sudah terlalu tampan.. atau terlalu jelek... jadi nggak bakalan ngaruh.

Jadi sebenernya saya tidak terlalu memujikan hasil karya tu Bapak lewat potongan rambut di kepala saya.. karena seperti biasa saya memang tidak terlalu peduli akan hal itu. Namun yang perlu digaris bawahi disini adalah proses untuk mencapai seperti itu.. Bapak pencukur tadi telah menunjukkan suatu kesungguhan dalam pekerjaannya, Beliau telah berusaha maksimal dan sungguh-sungguh akan apa yang menjadi kewajiban dalam pekerjaanya, bukan melulu asal selesai asal dibayar. Beliau memilih beda.. memilih menjadi pro.. dan dalam kasus pekerjaanya juga bisa disebut sebagai seniman. Semoga banyak orang yang bekerja dengan prinsip seperti Beliau.. apapun pekerjaan itu.. pasti dunia menjadi lebih indah... persis seperti syair lagu Gombloh "Lestari alamku..lestari desaku.. dimana Tuhanku menitipkan aku.. nyanyi bocah-bocah dikala purnama.. nyanyikan pujaan untuk Nusa."



Jumat, 08 Maret 2013

Dipotong Banci


Ini tentang teman SMA saya dulu, ceritanya saat kami kelas tiga pada satu hari dia dan dua  orang lainnya terseret razia rambut gondrong, dimana mengharuskan mereka harus memotong rambut saat itu juga. Setelah dikasih sejumlah uang oleh pihak sekolahan maka berangkatlah mereka bertiga keluar untuk potong rambut. Nah pas balik lagi ke kelas beberapa jam kemudian gaduhlah seisi kelas menyorakki ketiga teman itu bak selebritis yang kini tampil modis...

Namun salah satu dari mereka yang kebetulan teman sebelahan tempat duduk dengan saya bukannya senang malah terlihat kesal bukan kepalang. Sebab ia menilai model rambutnya terlalu masa kini alias ngetren. Memang benar sih bahkan saking ngetrennya saat itu saya memanggilnya Irwansyah, tambah sewotlah dia. Rupanya teman saya itu tidak suka dipotong model selebriti, juga potong di salon, apalagi sang pemangkas rambut adalah maaf model-model banci gitchuu........ Ia sungguh tidak sukakkk!

Dipotong banci... menjadi lamunan cerita yang cukup untuk sekedar mengundang senyum saat saya menunggu antrian potong rambut hari ini. Kebetulan saya memilih tempat cukur yang berada di belakang gedung sekolah SMA saya dulu. Tempat ini baru, dulu tidak ada bangunan cukur rambut laki-laki diarea ini, tempat cukur yang paling dekat adalah salon yang jadi tempat potong rambut ketiga teman saya waktu itu.

By the way tentang potong rambut, saya dewasa ini belum pernah sekalipun potong di salon. Kebetulan saya bukan tipe orang yang peduli masalah rambut, maka saya lebih suka potong cepak ala tentara atau rapper cuma karena model seperti itu ndak perlu disisir ndak perlu ribet perawatan. Tambahan untuk model seperti itu dijamin semua tukang cukur juga bisa.. makanya saya juga tak punya tempat cukur langganan apalagi harus ke salon. Saya terbiasa potong dimana saja seperti nyari warnet, mungkin kalau memang asik saya akan beberapa kali menyambangi tempat itu namun tidak untuk dijadikan langganan. Dan untuk tempat cukur dibelakang sekolah ini, adalah kunjungan saya yang pertama, dugaan awal saya ini adalah  tempat cukur biasa, namun ternyata pemangkas rambut disini sedikit mampu lebih tampil beda dari yang biasanya.. begini ceritanya... (bersambung)


Kamis, 07 Maret 2013

Iso Di-stop Mas?!!


IDM alias Internet Download Manager yang mempunyai singkatan apik nan mendamaikan itu, siang kemarin berubah sadis dan anarkis menjadi Iso Di-stop Mas...

Tragedi tak senonoh bermula saat saya dengan ganas dan rakus mendownload video-video berukuran cukup besar dari salah satu website ketika asik internetan di sebuah warnet.. keadaan yang sepi membuat setan dengan leluasa membujuk diri saya untuk mendownload semua video yang memang nampak menggiurkan itu...

Nah pas lagi asik-asiknya bercumbu dan berpeluh itulah layar monitor saya diketuk sebuah pesan dari sang operator yang meminta saya mematikan program IDM di PC... Saya pun terkejut, terperanjat, sekaligus malu sendiri... walau saya ngenet bayar... tapi memang sih, tak seharusnya saya gila-gilaan dalam memakainya.. apalagi IDM itukan terkenal menyedot bandwith sekaligus membuat koneksi pc seisi warnet jadi lelet..

Terimakasih mas operator yang menegur saya dengan nada yang saya kira masih halus.. kejadian ini jadi sebuah pengingat bahwa sejatinya dalam memakai sarana publik, walau kita bayar sekalipun, apalagi gratis.. sudah selayaknya kita bisa menghargai orang lain yang membutuhkan sama seperti kita. Ojo sak enak'e dhewe, gunakan seperlunya saja.. Nabi saja mengajarkan kita untuk hidup cukup dan bukan malah berlebihan bukan... qiqiqiqi.. aku dakwah nda... Ah... seperti itulah.. mari mencoba hidup cukup dan mulai menghargai satu sama lain.  



Senin, 04 Maret 2013

A Moment In Time #6





Kembali terduduk didepan kelas "aquarium" Bahasa 1 SMA N 6 Surakarta.. tempat saya menghabiskan satu tahun kelas tiga dengan penuh warna bersama para sahabat dan guru-guru tercinta. 6/7/12