Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalan-jalan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 November 2016

Kaset Pita Go!


Beberapa bulan lalu masyarakat dunia gempar dengan sebuah game ponsel bernama Pokemon Go, banyak sekali yang tertantang untuk memainkan game online yang kabarnya menguras kuota dan power baterai ini, namun tidak bagi saya. Alasan utama karena saya tidak suka anime, alasan lain hp saya tak kompatibel, saya belum niat beli power bank, hemat kuota, dst dst. Maka akhirnya pokemon go bagi saya hanyalah tren yang sekedar numpang lewat layaknya gelombang cinta, batu akik, kenari, dan suporter sok casual asal british.

Lalu beberapa bulan setelahnya, ketika tren pokemon go mati, saya menemukan mainan saya sendiri, mainan yang bagi saya begitu asik, menarik, dan eksentrik. Mainan itu adalah Kaset Pita Go!

Ya, sudah beberapa minggu ini saya teradiksi, kecanduan ngumpulin kaset pita. Tiap hari biasanya pagi atau kadang siang juga malam hari saya keluyuran nyari kaset pita. Sasaran utama kebanyakan adalah lapak barang bekas biar dapat banyak dan harganya murah.

Keuntungan dari permainan kaset pita go ini adalah saya jadi bisa sekalian olahraga, biasanya males bangun pagi sekarang jadi rutin bangun pagi trus nongkrong di pasar-pasar barang bekas seputar kota.

Keuntungan lain kemampuan tawar-menawar barang saya jadi sedikit demi sedikit terasah, masih teringat dulu ketika nawar selalu berhenti di ronde pertama, saya terlalu bodoh hingga pedagang langsung melepas barangnya saat saya baru melakukan tawaran pertama. Sekarang tawar-menawar bisa beronde-ronde saking alotnya proses transfer saga.

Kelemahan dari game kaset pita go adalah ngabisin duit, barangnya sih memang murah, tapi jumlah kasetnya banyak dan saingan belum terlalu kelihatan, alhasil tiap mampir ke lapak selalu pulang dengan ngeborong kaset-kaset kesukaan. Dalam kurun waktu 10 hari pertama ini saja saya sudah mendapatkan 100 keping lebih kaset pita, dan menghabiskan uang tak kurang dari 300 ribu. Nominal yang termasuk banyak bagi pekerja kelas rendah seperti saya, sialnya permainan ini tak ada tanda akan segera berhenti. "Ah biarin ntar juga bisa dijual lagi" batin saya ngeles.

Ya. Walau uang tabungan tergerus, dalam pikiran dan hati saya masih ingin berteriak "Kaset Pita Go... Lanjooot!!"



Rabu, 06 Agustus 2014

Tulisan Yang Sangat Diary Sekali - Tawar Buku


Hari ini aku beli buku di kios buku bekas dan bajakan di sekitaran alun-alun utara kota Solo. 2 Buku yang kubeli adalah buku tipis, yaitu petualangan Jon Koplo seri 1 dari solopos dan komik P-Project si Lender seri 1. Keduanya dibanderol 13.500 sama si ibu penjual dan aku cuma nawar 10.000, tanpa perlawanan alot si ibu langsung menyetujui harga tsb. Betapa masih dangkalnya ilmu tawar-menawarku.

Aku pikir 2 buku itu bisa dihargai lebih murah, mungkin sekitar 5 ribu, atau 7 ribu saja. Ada perasaan kecewa, namun agak terbantahkan ketika sampai rumah search di internet harga 2 buku tersebut, ternyata salah seorang membanderol 50 ribu untuk Komik P Project dan 8 ribu untuk Jon Koplo. Jadi harga 10 ribu untuk buku itu sebenarnya ngambang antara mahal dan tidak mahal, tergantung dari sudut mana aku melihatnya.





Sabtu, 22 Februari 2014

To The East.. To The East..


Bagi orang Solo yang hobi bersepeda, tentu belum lengkap rasanya bila belum mencoba untuk mengencangkan kaki memancal pedal sampai ke Tawangmangu, jalanan naik ke gunung yang cukup menyebalkan itu sudah saya takhlukan dengan sepeda federal jadul saya beberapa bulan yang lalu.

Eh saya tidak merasa supeeer sih, sebab untuk kesana saya membutuhkan waktu sampai 6 jam.. dengan dibalut rasa pesimis atas tanjakan sing ra uwis-uwis, serta memilih tidur dulu di tengah jalan, saya memang tidak terlihat perkasa, tapi sudahlah, toh yang penting saya bisa sampai sana.

Perjalanan diawali saat saya memantapkan diri berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi, menyusuri jalanan Palur ke Karanganyar, disini perjalanan santai saja, pedal baru terasa mulai berat setelah melewati hik gaulnya Pak Mul...

Namun saya baru memutuskan berhenti sejenak di Terminal Karangpandan, capek siih, sudah itu ya lanjut lagi, nanjak lagi, berhenti lagi di persimpangan menuju Kemuning untuk beli air minum. Saking capeknya sempat hati ingin menswitch direction ke tempat ini, (pssst.. saya adalah wong Solo yang belum pernah ketempat wisata sini) tapi sayang ah.. akhirnya lanjut naik lagi..

Nah setelah memutuskan lanjut inilah konsentrasi saya buyar, jalanan nanjak mulu, kaki saya pegal, napas ngos-ngosan, selanjutnya bisa ditebak baru menggowes pedal sepuluh meteran saya berhenti... begitu terus berulang-ulang... capeeek bener..

(beginilah cara saya beristirahat, pit'e selehke mak bruuukkk langsung ndeprok..)

Kepenatan atas tanjakan mencapai puncaknya saat saya dipertemukan dengan sebuah bangku panjang di sebuah bengkel yang tutup, disitulah saya menghabiskan waktu, tak tanggung-tanggung satu setengah jam-an saya tertidur, pulas dan semi pulas, nikmatnya jangan ditanya.. udara pegunungan yang cukup dingin, riuhnya dedaunan yang tertampar angin saat badan penat gini... bayangkanlah sendiri dan rasakan nikmat Tuhan mana yang kau dustakan.

Setelah itu ya tak ada pilihan lain, teruskan naik, tenaga saya yang sudah di recharge saat tidur rupanya mampu menakhlukan sisa tanjakan, syukurlah bisa sampai Tawangmangu. Maka masuklah saya kesana saat jam menunjukkan lewat 12 siang. Ah tapi maaf sekali yah, Tawangmangu yang dulu jauh lebih indah dari yang sekarang, selain udara dingin yang sudah berkurang, si Grojogan Sewu juga nampak tak semegah dulu... kenapa ya... kenapa.. kenapa..

Btw ada yang lucu menggelitik seputar Tawangangu, selain singkatan salah kaprah masyarakat yang terlanjur menyingkat Tawangmangu sebagai "Te-We"... harusnya yang bener"Te-eM" kaaann? Yaitu dulu ketika kiper Solo FC Alex Vrteski yang notabene asal Australia bertanya dalam twiternya "guys besok gue ke tawangmangu nih, apakah gue perlu jaket, sebab katanya disana dingin" lalu banyaklah yang merespon dia memang perlu pakai jaket.. akhirnya ya bisa ditebak, tuh jaket sama si bule cuma diiketin di leher, nggak kepake wong disana nggak dingin-dingin amat bagi wong lokal, apalagi bule..

Vrteski si bule kecele', jebul tawangmangu ra adem babar blassss... (sumber foto: mbuh ko ngendi lali)

Oke.. kembali lagi ke cerita saya, akhirnya saya cuma disitu sejam-an aja, sebab saya sebeeeel melihat mereka-mereka yang tampak mesra memadu kasih sambil bermain air... bikin irii aje bisanye. Dan yang namanya orang Indonesia, peraturan dibuat untuk dilanggar kaan...

 
(udah asik bermesraan di tempat umum, batas area pengunjung puun ditrabas, lalalalala..)

Sayapun pulang, dan tentu saja ada yang menanti saya selanjutnya.. tanjakan berupa tangga di sepanjang pintu keluar... lumayaaan.. meski ditemani sajian tingkah polah para monyet yang hampir semuanya berbadan subur, tanjakan keluar ini cukup melelahkan..

(alaahh.. baru juga 1250 anak tangga, saya kesini naik sepeda tauuu.. batin saya dongkol)

Setelah keluar dari wisata grojogan sewu saya boleh bernapas lega.. sebab perjalanan pulang tinggal duduk manis saja.. tapi awas untuk turunan yang dirasa curam lebih baik sepeda di tuntun, bahayaa..  akhirnya saya sampai rumah jam 4 sore dong, saya capek sekali, dan pada malam harinya... badan saya meriang, tubuh saya panas, kepala pusing seperti masuk angin...susah sekali untuk tidur... dan malam itu saya kapok gowes ke Tawamangu lagi... hahahaha dasar amatir!!!